JAKARTA – Ekonomi Indonesia secara bertahap terus melangkah naik kelas melalui transformasi struktur bisnis nasional yang semakin matang. Lanskap bisnis tanah air kini tengah mengalami perubahan mendasar, bergerak dari sekadar pemenuhan norma kepatuhan (*compliance*) menuju strategi ketahanan ekonomi jangka panjang. Fenomena penting ini terangkum dalam riset komprehensif terbaru yang menguraikan potensi besar strategi sustainability shift Indonesia untuk memperkuat daya saing industri di panggung internasional.
Studi mendalam bertajuk *”The Sustainability Shift: Indonesia’s Industrial Landscape in Five Key Sectors, Opportunities and Risks”* yang dirilis oleh PT Bank DBS Indonesia memetakan arah pergeseran tersebut secara terperinci. Studi ini menyoroti dinamika perubahan yang terjadi di lima sektor industri paling krusial bagi perekonomian nasional, yaitu: Energi, Energi Terbarukan, dan Infrastruktur; Teknologi, Media, dan Telekomunikasi (TMT); Pangan dan Agribisnis; Kesehatan dan Farmasi; serta Logam dan Pertambangan.
Director of Institutional Banking Group PT Bank DBS Indonesia, Anthonius Sehonamin, menekankan bahwa di tengah tingginya kompleksitas bisnis global, pelaku usaha sangat membutuhkan arah panduan yang jelas. Penerapan prinsip-prinsip keberlanjutan tidak lagi dipandang sebagai beban biaya tambahan, melainkan sebagai fondasi utama untuk membangun ketahanan usaha, menciptakan nilai tambah (*value creation*), serta meningkatkan profitabilitas perusahaan secara konsisten.
Bedah Peluang dan Tantangan Transformasi Keberlanjutan di 5 Sektor Utama
Laporan riset DBS Indonesia menggarisbawahi bahwa pendekatan transisi hijau tidak dapat disaratkan secara seragam (*one size fits all*). Setiap industri memiliki dorongan (*driver*), kendala operasional, serta kebutuhan pembiayaan yang berbeda-beda. Berikut adalah gambaran perubahan peta bisnis di lima sektor vital nasional:
1. Energi, Energi Terbarukan, dan Infrastruktur
Sektor energi tengah mengalami transisi besar dari ketergantungan bahan bakar fosil menuju elektrifikasi secara masif. Melonjaknya kebutuhan daya listrik dari adopsi kendaraan listrik, proyek hilirisasi mineral, pengembangan kecerdasan buatan (AI), pusat data, hingga elektrifikasi sektor rumah tangga diproyeksikan akan mengerek konsumsi listrik nasional secara drastis—dari sekitar 300 TWh pada 2024 menjadi lebih dari 1.800 TWh pada tahun 2060. Kendati Indonesia memiliki potensi energi terbarukan raksasa hingga 3.687 GW, tingkat pemanfaatannya saat ini masih sangat rendah (kurang dari 0,5%) akibat terbatasnya jaringan transmisi dan isu kepastian pembiayaan (*bankability*).
2. Teknologi, Media, dan Telekomunikasi (TMT)
Di sektor TMT, terjadi pergeseran fokus dari sekadar penyediaan konektivitas fisik ke arah penguatan layanan ekosistem digital. Pertumbuhan lini telekomunikasi konvensional melambat menjadi 7,14% pada awal 2026. Sebaliknya, nilai transaksi ekonomi digital melonjak tajam dengan estimasi *Gross Merchandise Value* (GMV) mencapai USD 99 miliar pada 2025. Perkembangan pesat teknologi AI yang digandrungi 79% pengguna di Indonesia telah mendorong lonjakan permintaan terhadap komputasi *cloud*, keamanan siber, serta pembangunan *green data center* sebagai motor pertumbuhan baru.
3. Pangan dan Agribisnis
Sektor agribisnis mengalihkan strateginya dari perluasan lahan (*ekspansi fisik*) menuju peningkatan produktivitas serta penguatan ketahanan pangan. Sebagai pemasok 60% kebutuhan minyak kelapa sawit dunia, pertumbuhan industri sawit Indonesia kini sangat bergantung pada program penanaman kembali (*replanting*), peningkatan kualitas hasil panen, dan pemenuhan sertifikasi internasional (seperti RSPO, NDPE, dan regulasi EUDR). Fokus utama industri kini bergeser pada transparansi rantai pasok dan ketertelusuran digital (*digital traceability*).
4. Kesehatan dan Farmasi
Ketergantungan impor bahan baku obat (*Active Pharmaceutical Ingredients*/API) yang mencapai 90% menjadi tantangan terbesar sektor kesehatan. Dorongan keberlanjutan pada sektor ini berfokus pada upaya lokalisasi produksi bahan baku secara selektif, diversifikasi rantai pasok guna meminimalkan risiko krisis, serta penerapan skema pembiayaan kesehatan yang lebih inklusif demi mewujudkan kemandirian rantai pasok nasional.
5. Logam dan Pertambangan
Indonesia memegang kendali atas 60% produksi nikel dunia. Namun, tantangan utama terletak pada penggunaan energi listrik untuk pengolahan nikel yang masih didominasi oleh pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara mandiri (*captive coal*). Guna mempertahankan daya saing di rantai pasok global dan industri baterai kendaraan listrik, para pelaku industri didorong untuk menekan intensitas karbon melalui integrasi energi terbarukan serta menerapkan praktik pertambangan yang bertanggung jawab (*responsible mining*).
Mendorong Kesiapan Proyek Lewat Ekosistem Pembiayaan Terintegrasi
Riset DBS menegaskan bahwa tingginya potensi bisnis hijau tidak secara otomatis menjamin kucuran pendanaan perbankan. Kelayakan proyek (*bankability*), profil risiko, kepastian arus kas (*cash flow*), serta struktur pembiayaan yang efisien tetap menjadi parameter kunci penentu.
Untuk menjembatani celah tersebut, lembaga keuangan seperti Bank DBS Indonesia memosisikan diri tidak sekadar sebagai penyedia modal, melainkan sebagai mitra strategis yang menyediakan layanan *sustainability financing*, *blended finance*, hingga pendampingan *advisory*. Langkah ini bertujuan meningkatkan kesiapan proyek-proyek hijau agar mampu menyerap investasi dan merealisasikan lima prioritas strategis: naik kelas dalam rantai nilai, membangun infrastruktur penunjang, mengintegrasikan prinsip keberlanjutan dalam keputusan komersial, memperluas pembiayaan ketahanan, serta membangun ekosistem lintas sektor.

