Bandar Lampung (LUMINARA.ID)— Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, memperkenalkan dua ekor anak Harimau Sumatera betina yang baru lahir di Taman Satwa Lembah Hijau. Acara tersebut digelar pada Jumat (22/5/2026) sebagai bentuk nyata komitmen pemerintah daerah dalam menjaga kelestarian satwa langka.
Kedua anak harimau tersebut diberi nama Puspa dan Muli Sikop. Mereka lahir pada 14 Februari 2026 dari pasangan Kyai Batua dan Sinta. Kehadiran mereka menjadi momen bersejarah karena merupakan keberhasilan pertama program konservasi ex-situ (di luar habitat alami) Harimau Sumatera di Provinsi Lampung.
Nama Puspa dipilih oleh Purnama Wulan Sari Mirza, istri Gubernur, yang bermakna “bunga” melambangkan keindahan. Sedangkan Muli Sikop berasal dari bahasa Lampung yang artinya “gadis cantik”.
Gubernur Mirza menyampaikan rasa syukurnya atas kelahiran kedua harimau ini. “Alhamdulillah, Lampung mendapat kabar bahagia dengan lahirnya dua anak Harimau Sumatera yang sehat. Ini bukti bahwa upaya konservasi yang kita lakukan bersama masih memberikan harapan besar bagi pelestarian satwa langka,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa keberhasilan ini tak lepas dari kerja sama antara Pemerintah Provinsi Lampung, Kementerian Kehutanan, dan pihak Taman Satwa Lembah Hijau. Mirza juga menceritakan kisah inspiratif kedua induk harimau yang selamat dari jerat liar.
Simbol Ketangguhan
Kyai Batua diselamatkan pada 2019 setelah terjerat di Lampung Barat hingga harus diamputasi kaki kanan depannya. Sementara Sinta diselamatkan dari jerat di Bengkulu akhir 2024 dan kehilangan kaki kanan belakangnya. Meski demikian, keduanya berhasil beradaptasi dan menghasilkan keturunan.
“Ini bukan sekadar kelahiran biasa, tapi simbol ketangguhan dan harapan. Kita diajarkan untuk tidak menyerah menjaga kekayaan alam Indonesia,” tambah Mirza.
Ia mengajak masyarakat, terutama generasi muda, untuk mulai peduli terhadap lingkungan sejak dini.
Sementara itu, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan, Satyawan Pudyatmoko, menyoroti ancaman jerat liar yang masih tinggi. Menurutnya, jerat sering kali dipasang untuk babi hutan, tetapi justru banyak membahayakan satwa dilindungi seperti harimau.
“Lampung merupakan salah satu habitat penting Harimau Sumatera. Kita butuh dukungan semua pihak untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak lagi memasang jerat di hutan,” tegas Satyawan.
Ia menambahkan bahwa konservasi harus tetap menjaga keseimbangan antara kelestarian satwa dan keselamatan manusia. Satyawan juga mengajak berbagai elemen masyarakat, termasuk media dan influencer, untuk ikut mengampanyekan pelestarian Harimau Sumatera.
Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Mirza sempat berinteraksi dengan Gajah Sumatera bernama Mega beserta anaknya, Rawana.
Yuk, Simak 5 Insight Utama Berita Ini:
- Kelahiran Bersejarah — Puspa dan Muli Sikop merupakan keberhasilan pertama kelahiran Harimau Sumatera melalui program konservasi ex-situ di Lampung, memberikan harapan baru bagi populasi satwa langka.
- Kisah Perjuangan Induk — Kedua induk (Kyai Batua dan Sinta) selamat dari jerat liar dan kehilangan satu kaki masing-masing, namun tetap mampu bereproduksi — bukti nyata ketangguhan satwa dan dedikasi para pelestari.
- Kolaborasi yang Kuat — Keberhasilan ini lahir dari kerjasama pemerintah provinsi, kementerian, dan lembaga konservasi, menunjukkan pentingnya gotong royong dalam pelestarian alam.
- Ancaman Jerat Liar Masih Nyata — Jerat yang dipasang untuk hewan lain tetap menjadi ancaman serius bagi Harimau Sumatera, sehingga kesadaran masyarakat harus terus ditingkatkan.
- Ajakan untuk Generasi Muda — Gubernur Mirza dan Kementerian Kehutanan mengajak semua pihak, terutama anak muda, untuk peduli dan terlibat aktif dalam menjaga kekayaan alam Indonesia.

